Psikologi Alam

Pada postingan sebelumnya, aku menyebutnya psikologi alam. Penamaan yang bisa saja ceroboh atau terkesan asal comot. Sebab pemahamanku tentang ilmu psikologi yang dangkal. Yang pasti aku menggunakan istilah tersebut untuk menamai sebuah upaya menguasai diri sendiri ketika mendapatkan hambatan di alam.

Ketika kita melakukan sebuah kegiatan di alam; seperti mountain climbing, coastal fringing, hiking, camping ataupun backpacking, seringkali kita menemukan hambatan yang menghadang langkah kita. Rasa sakit karena luka, menurunnya mental karena lelah, ataupun cuaca yang ekstrim hampir tidak pernah absen untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan semacam itu.

Aku percaya bahwa sakit yang kita rasakan hampir separuhnya adalah persoalan psikologis. Jika kita bisa memenangkan atau menghilangkan rasa sakit dari sisi psikologis, maka kita bisa mengurangi sakit yang kita rasakan menjadi separuhnya saja.

Hal ini penting, mengingat alam tidak mengenal kompromi dalam memberikan ujian. Kondisi alam yang kita hadapi tidak mengenal tawar-menawar. Maka kita sendiri yang harus melakukan adaptasi dalam diri kita dengan sebaik-baiknya.

Meskipun secara teknis aku masih selalu kesulitan untuk menjelaskan prosesnya, namun aku sudah sering mempraktekkannya. Pada beberapa kesempatan, psikologi alam ini cukup berhasil buatku untuk menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan di alam. Misalnya untuk menghadapi terik matahari yang ekstrim ataupun ketika harus turun gunung tanpa alas kaki.

Mari menyatu dengan alam! :)

Misteri Sumur Pak Jo

Rumah pak Jo yang aku tempati selama aku berada di Karimunjawa adalah sebuah rumah tua yang sudah lama kosong. Pemilik sebelumnya sudah lama meninggal, pun anaknya. Sementara cucunya yang menjadi ahli waris sudah memiliki rumah sendiri.

Rumah tersebut sangatlah sederhana. Teras kecil berukuran empat kali satu setengah meter tergelar di depan rumah. Sementara dalamnya hanya terdiri dua ruangan berukuran lima kali lima meter masing-masingnya. Terdapat lubang tanpa daun pintu yang menghubungkan ruang depan dan belakang tersebut.

Kesan kuno dan lama tanpa penghuni tampak sekali ketika kita memasuki rumah tersebut. Apalagi rumah tua tersebut belum dialiri sambungan listrik. Entah dari dulunya belum pernah terinstalasi listrik atau karena lamanya tak dihuni sehingga akhirnya instalasi listrik dilepaskan, aku tidak tahu. Pastinya rumah tersebut gelap gulita di malam hari.

Jika malam sebelumnya aku menginap di rumah bang Jay yang terang benderang karena harus menemani si Afri, malam ini aku tidur di rumah pak Jo yang gelap karena Afri sudah kembali ke Jepara pagi tadi.

Pak Jo menyalakan jentera untuk membantu mata kami mengidentifikasi arah dan barang-barang disekitar kami. Jentera lebih-lebih sangat kami butuhkan untuk membantu pandangan ketika kami harus pergi ke kamar mandi darurat di belakang rumah. Rumah ini sebenarnya tidak memiliki kamar mandi. Pak Jo membuat ruangan dari kantung beras seluas satu kali satu meter di kebun belakang. Sedangkan sumur baru saja digali dua meter jauhnya dari kamar mandi darurat.

Malam belum lagi larut. Jam Sembilan baru lewat beberapa menit. Namun perkampungan Karimunjawa sudah mulai sepi. Hanya sesekali kendaraan lewat ataupun seseorang berjalan pulang. Pintu-pintu sudah ditutup. Lampu halaman dimatikan.

Karena kebiasaan begadang. Aku belum mengantuk. Masih sibuk membalas pesan singkat yang sesekali masuk. Pak Sirin berbaring di sampingku dengan badan sepenuhnya terbungkus kain sarung, menghalau nyamuk yang cukup banyak di pulau Karimun. Sementara Pak Jo sudah tak terdengar suaranya di ruang belakang.

Waktu berjalan lambat. Mataku masih sulit terpejam. layar di hapeku masih menunjukkan pukul 10.15 malam. Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang menimba air di sumur belakang. “Ah, pak Jo sedang ke kamar mandi,” batinku. Belum lama membatin, tiba-tiba aku mendengar dengkuran dari ruang belakang. Pak Jo sedang tertidur pulas! Aku terhenyak. Sontak aku teringat bahwa sekarang adalah malam jum’at. Dadaku berdegup. Keinginan untuk memeriksa belakang rumah dan rasa takut tarik-menarik.

Akhirnya suara kecipak air sumur berhenti. Aku berniat untuk mengabaikannya dan berusaha segera tertidur. Namun suara tersebut terdengar lagi lima menit kemudian. Suaranya seperti orang menimba air di sumur namun terkadang juga terdengar seperti mempermainkan timbanya di air. Terdengar dan hilang hingga lebih dari lima kali.

Tak tahan, aku membangunkan pak Sirin dan mengajaknya memeriksa sumur. Berbekal lampu sorot kecil, kami membuka pintu belakang. Tak ada siapapun, kami juga memeriksa air dalam sumur. Tenang. Tidak terlihat seperti habis ditimba. Lampu sorot kami arahkan ke kebun belakang, tak ada siapapun. Kami kembali ke dalam rumah.

Belum lama kami berbaring, suara tersebut terdengar lagi, dan lagi dan lagi. Suaranya semakin keras dan jelas.

Penasaran, kami berusaha mengintip dari lubang pintu. Suara tak terdengar. Sepi. Ketika tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Aku dan pak Sirin segera berlari ke belakang rumah. Tetap saja kami tak melihat siapapun. Tetapi air sumur bergerak. Meninggalkan gelombang kecil. Kami putari sumur untuk melihat setiap sisinya. Tiba-tiba kami melihat punggung seekor binatang berbulu. Tangannya mencakar dinding sumur sementara kakinya masuk ke dalam air. Dengan seksama kami memeriksa. Binatang itu basah kuyup. Cakarnya kuat mencengkeram tanah dipinggir sumur yang tak rata. Lampu sorot kami dekatkan ke binatang itu. Akhirnya kami tahu bahwa seekor kucing terjatuh ke dalam sumur yang baru digali. Dengan kaki depannya dia berusaha berpegangan pada dinding sumur. Tampaknya berkali-kali kucing  malang itu berusaha melompat dinding sumur namun gagal seberapa pun kerasnya dia mencoba. Suara melompat dan jatuh ke airlah yang tadinya kami dengar.

Aku mengambil kayu di samping rumah. Kayu aku letakkan menyilang di atas sumur. Dengan hati-hati aku membungkuk dengan perut bertumpu pada palang kayu. Kedua tanganku aku julurkuan ke dalam sumur. Berusaha meraih badan kucing yang ketakutan. Terasa berat ketika aku mengangkat badannya. Karena si kucing juga memberontak tidak mau melepaskan cengkeramannya pada dinding sumur. Dia semakin ketakutan. Aku menariknya dengan kuat dan melepaskannya di luar sumur.

Si kucing mengibaskan tubuhnya. Melepaskan dirinya dari air dan rasa dingin. Aku dan pak Sirin kembali ke dalam rumah. Kami bergegas tidur. Tragedi malam jumat telah selesai.

Sebuah Gerakan Sederhana Mencintai Bumi

Kedatangan relawan GPL ke Pulau Panjang

Sebanyak 19 relawan Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) kembali beraksi di Pulau Panjang, Jepara, 30 September hingga 2 Oktober lalu. Kali ini mereka mengusung tema pengukuhan diri sebagai relawan peduli lingkungan.

Gerakan Peduli Lingkungan sendiri merupakan sebuah gerakan sederhana mencintai bumi. Gerakan ini dicetuskan pertama kali awal April 2011 di Yogyakarta oleh dua orang pecinta lingkungan. Hingga saat ini, relawan GPL sudah mencapai angka ratusan dan tersebar dari berbagai kota di pulau Jawa, mulai Surabaya, Malang, Madiun, Yogyakarta, Demak, Semarang, Jepara hingga Bandung.

Kegiatan GPL di Pulau Panjang yang berlangsung selama tiga hari dua malam beberapa saat yang lalu memiliki tujuan khusus untuk meningkatkan pemahaman relawan GPL terhadap lingkungan. Kegiatan tersebut terbagi menjadi beberapa sesi mulai dari yang serius hingga bersantai di pantai. Secara singkat kegiatan GPL tersebut bisa kami rangkum sebagai berikut:

Hari pertama:

Penyebrangan ke Pulau Panjang, pendirian tenda, ice breaking, sosialisasi misi GPL, perkenalan relawan.

Hari kedua:

Susur pantai, bersih-bersih sampah, self-managing (psikologi alam), survival, pengenalan karakter sampah, sunset, renungan malam.

Hari ketiga:

Evaluasi, bersih-bersih sampah, pembongkaran tenda, penyebrangan kembali ke Jepara.

Kegiatan tersebut berlangsung sangat meriah. Relawan yang sudah terlibat sejak awal berdirinya GPL maupun yang baru bergabung sangat menikmati kegiatan. Mereka menyatu dalam setiap kegiatan tanpa ada sekat meski sebagian besar baru mengenal satu sama lain. Masing-masing relawan, dalam evaluasi akhir, menyatakan bahwa pemahaman mereka terhadap persoalan lingkungan meningkat. Kesadaran terhadap pentingnya prilaku sadar lingkungan menguat.

Salam Lestari!

visit GPL facebook group


Permainan untuk memecah suasana

Relawan membersihkan sampah sepanjang Pulau panjang

Mengumpulkan sampah yang merusak lingkungan

Olahraga pagi

Materi self-managing (psikologi alam)

Api unggun

Berfoto sebelum pulang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.