
Bangsa Indonesia adalah bangsa pemimpi yang besar, sejak dahulu, sejak bangsa ini dilahirkan. Namun sayang bangsa Indonesia bukan pengawal mimpi yang baik. Seperti kehidupan, impian haruslah dijalani setiap incinya, diberi pupuk sehingga subur, diairi sehingga tumbuh besar dan dirawat ketika penyakit datang.
Orang Indonesia kebanyakan bertekad kuda namun bertenaga domba. Meluap-luap ketika menaksir keinginan dalam hidupnya. Namun menjadi cengeng ketika menjalaninya. Dalam sebuah bukunya yang cukup terkenal, seorang penulis asal Brazil mengatakan “setiap pencarian (impian) dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang.”
Karakter masyarakat kita yang tidak memiliki ukuran pasti dalam menjalani hidup, begitu terbius oleh sebuah keberuntungan kecil. Kita merasa ‘be a hundred percent spirit’ ketika keberuntungan itu menyertai, namun yang terlupakan adalah selalu ada ujian yang harus dihadapi mati-matian untuk menjadi seorang pemenang.
Andrea menyuguhkan realitas itu secara mendalam dalam buku Sang Pemimpi ini. Dia mampu melukiskan betapa licinnya jalan meretas mimpi, betapa dahsyatnya badai yang menggempur tembok-tembok impian, betapa wajarnya pilihan-pilihan lain yang ditawarkan oleh kehidupan sehingga mudah bagi kita untuk beralih. Dan ketika kita tersadar, kita sudah membunuh impian kita sendiri.
Melihat bagaimana Ikal terlempar dari garda depan ke ranking 75 karena rasa pesimis yang muncul dalam dirinya, Andrea hendak mengatakan bahwa musuh terbesar impian kita adalah diri kita sendiri.
Tidak pernah menyerah dan tidak juga terburu-buru dalam mencapai keberhasilan, itu juga yang diajarkan Andrea dalam novel ini. Bagaimana menjaga agar mimpi itu tetap ada sementara kita harus menunggu lama sampai kesempatan itu tiba. Ikal dan Arai harus bersabar mencari penghidupan sebagai salesman, buruh pabrik tali, tukang fotokopi hingga tukang sortir kantor pos meski keinginan untuk mengenyam pendidikan tinggi begitu menyayat hati.
Kesuksesan adalah kesiapan dengan disertai rasa sabar yang tinggal menunggu saatnya tiba, dan Ikal mampu membuktikannya.
Sebuah kisah yang luar biasa!
Pada kehidupan pribadiku, buku ini telah memberikan inspirasi padaku untuk berani menjalani mimpiku untuk berkeliling Indonesia dan membantu banyak orang. Karena buku inilah aku memiliki keberanian menjejakkan kakiku ke Jakarta, Madura, Makassar dan berbagai kota lain di Indonesia.
Buku ini tidak boleh hanya menjadi bacaan pengisi waktu luang saja, namun harus menjadi buku bacaan wajib setiap siswa.
[ ]
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI





