Pada postingan sebelumnya, aku menyebutnya psikologi alam. Penamaan yang bisa saja ceroboh atau terkesan asal comot. Sebab pemahamanku tentang ilmu psikologi yang dangkal. Yang pasti aku menggunakan istilah tersebut untuk menamai sebuah upaya menguasai diri sendiri ketika mendapatkan hambatan di alam.
Ketika kita melakukan sebuah kegiatan di alam; seperti mountain climbing, coastal fringing, hiking, camping ataupun backpacking, seringkali kita menemukan hambatan yang menghadang langkah kita. Rasa sakit karena luka, menurunnya mental karena lelah, ataupun cuaca yang ekstrim hampir tidak pernah absen untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan semacam itu.
Aku percaya bahwa sakit yang kita rasakan hampir separuhnya adalah persoalan psikologis. Jika kita bisa memenangkan atau menghilangkan rasa sakit dari sisi psikologis, maka kita bisa mengurangi sakit yang kita rasakan menjadi separuhnya saja.
Hal ini penting, mengingat alam tidak mengenal kompromi dalam memberikan ujian. Kondisi alam yang kita hadapi tidak mengenal tawar-menawar. Maka kita sendiri yang harus melakukan adaptasi dalam diri kita dengan sebaik-baiknya.
Meskipun secara teknis aku masih selalu kesulitan untuk menjelaskan prosesnya, namun aku sudah sering mempraktekkannya. Pada beberapa kesempatan, psikologi alam ini cukup berhasil buatku untuk menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan di alam. Misalnya untuk menghadapi terik matahari yang ekstrim ataupun ketika harus turun gunung tanpa alas kaki.
Mari menyatu dengan alam!
4 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI






Yap,saya sempat heran saat anda turun sindoro tanpa alas kaki
mari menyatu dengan alam masbro!
satu yg sulit saya terima, kok foto saya sangat sedikit disini???
hmmmm… potograper nya menolak memotret orang tidur *eh*
)