Pernah merasa bersalah pada sahabatmu? Dan kamu tidak bisa segera memperbaiki kesalahanmu atau sekedar meminta maaf padanya? Bagaimana perasaanmu?
Bukan tidak ingin, setiap harinya, bahkan jika mau dirinci setiap jam, menit dan detik selama kamu bernafas, niat untuk memperbaiki kesalahan senantiasa ada, malah kuat sekali. Mengucapkan kata maaf sudah sampai di tenggorokan. Namun kamu hanya tidak bisa. Bagaimana rasanya?
Kalau itu terjadi pada saya, dunia sudah seperti neraka.
Nah, sekarang pertanyaannya kita rubah.
Pernah disalahkan oleh sahabatmu? Segala tindakanmu, tidak peduli bagaimana, selalu dianggap salah. Apapun pilihanmu selalu dikatakan keliru. Tindakannya mengawasimu. Perkataannya memojokkanmu. Pandangannya menghakimimu. Setiap saat. Pernah?
Bagaimana perasaanmu?
Kalau bagi saya, sahabat saya tersebut rasanya seperti baru pulang dari neraka.
Jika temanmu selalu memberitahu semua yang kamu lakukan salah,
Dia benar . . .
Kamu salah bersahabat dengannya.
Tetapi paling tidak, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kemudian.
Kemampuan memilih sahabat mempengaruhi setiap sesuatu yang masuk ke dalam ruang pikiranmu. Setiap sesuatu yang masuk ke dalam pikiranmu akan berpotensi menerangi atau meredupkan ruang pikirmu.
[ ]
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI






