Kisah perang selalu berisi kebencian; tak peduli terhadap bangsa mana orang berperang.
Begitu kata Rita La Fontaine mengawali kisahnya pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Rita, gadis belia 12 tahun keturunan Belanda, harus menyembunyikan identitas aslinya dan berperan sebagai Rick L Fontaine. Sebagai anak laki-laki pertama keluarga La Fontaine.
Penyamarannya tersebut bermula dari niat kedua orang tuanya yang khawatir jika pasukan Jepang yang menyerang kota tempat tinggalnya mengambil paksa dirinya sebagai wanita penghibur. Meski awalnya Rita alias Rick tidak memahami alasan penyamaran tersebut, ia toh akhirnya bisa menikmati perannya sebagai anak laki-laki.
Bahkan dengan status barunya sebagai anak laki-laki. Rick mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dan kesempatan istimewa yang tidak akan didapatnya jika dia dikenal sebagai anak perempuan.
Berawal dari perintah memainkan akordeon, menjadi asisten di kantor keuangan pegawai Jepang, dimana dia mendalami kemampuan bahasa Jepangnya, hingga menjadi penerjemah sang Komandan dia lakoni. Bahkan di setiap kantor dimana dia bekerja, dia selalu menjadi kebanggaan sang pimpinan dan akhirnya terjalin persahabatan yang akrab di antara mereka.
Tidak selalu berjalan mulus, Rick juga mengalami peperangan batin antara melaksanakan perintah dan membela para tawanan yang sebangsa dengan dirinya. Latar belakang keluarganya sebagai bangsa yang memerintah Hindia-Belanda kemudian berubah seratus delapan puluh derajad menjadi tawanan perang tentu tidaklah mudah bagi anak seusianya. Namun dengan kecerdasannya yang senantiasa bertambah, Rick mampu menyelesaikan persoalan batinnya satu-persatu meski diwarnai derai air mata.
Memang mudah bagi kita untuk menyerah; tapi adalah tantangan untuk kita bisa bertahan dan menang.
Begitu kata Rick dalam buku Disguised (Sang Penyamar) yang berisi kisah hidupnya dan keluarganya selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang di Indonesia.
Mari membaca!
gambar dari sini
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI






