Kapal (Karimun 1)

Di langit, mendung masih menggantung, bulir air terus menghujani tanah Jepara. Rupanya, hujan yang merindu pada bumi belum usai meski luruhnya tak pernah berhenti sejak pukul dua dini hari tadi. Aku tergeragap. Menjawab panggilan Bunda yang berulang. Mengingatkanku waktu subuh yang hampir terlewat.

Lima – lima belas, udara belum pernah sedingin ini. Aku bangkit perlahan. Melawan rasa malas yang memberat di kakiku. Hujan pertama yang memutus kemarau panjang tahun ini turun semalaman. Membuat siapapun betah berdiam di balik selimut.

Mandi pagi terasa bagai siksaan. Sholat subuh kulakukan bersama tubuh yang menggigil. Aku ragu pada rencana perjalananku pagi ini demi gerimis yang masih enggan berhenti. Tapi aku harus pergi. Sebab dua kali aku telah mengundur perjalanan panjang ini.

Aku telah bersiap ketika Bunda datang dengan mie rebus yang masih mengepul dan secangkir teh panas yang mengembalikan semangatku.

Ketika semuanya siap, waktuku sudah tidak banyak. Aku membatalkan rencana ke pelabuhan dengan bis kota. Sebagai gantinya, Sofyan, salah satu karyawan kakakku, mengantarku ke pelabuhan dengan sepeda motor. Gerimis yang masih tersisa tidak menghentikan kami. Kami melaju cepat meski sedikit basah.

Tepat pukul enam, kami sampai di pelabuhan. Antrian padat yang kulihat pada penyebrangan beberapa hari sebelumnya tidak tampak. Hanya sedikit orang yang berdiri di depan loket. Beberapa nelayan, rombongan backpacker dan hanya dua orang asing di depanku.

Sampai giliranku, aku memesan tiket kelas ekonomi. Tiga puluh satu ribu rupiah untuk sekali penyebrangan. Setelah tiket berada ditangan, aku bergegas menuju dermaga dimana kapal feri KMP Muria bersandar.

Di atas kapal, penumpang juga tidak seramai sebelumnya. Tiga mobil berjajar di lambung kapal. Puluhan motor diparkir rapi di antaranya. Pedagang menumpuk dagangannya di lambung kapal. Kanan dan kiri. Sementara penumpang lain memilih berada di lantai dua.

Aku beranjak ke lantai dua, mencari tempat yang nyaman untuk berdiam. Setelah melewati tangga selebar satu meter di kiri kapal, aku menemukan ruangan yang setengah tertutup. Dinding setinggi pinggang orang dewasa dengan jendela-jendela lebar di atasnya. Kebanyakan penumpang memilih tempat duduk di samping jendela, sehingga mereka memiliki kesibukan memperhatikan pemandangan di luar kapal selama perjalanan yang panjang.

Lantai dua dimana aku berada terbagi atas tiga ruangan. Ruangan penumpang VIP yang berada paling depan. Ruangan ini sepenuhnya tertutup dari ruangan lain. Dengan kursi yang nyaman, tanpa gangguan dari penumpang lain dan terutama jendela lebar di bagian depan untuk melihat pemandangan ke luar kapal. Meski nyaman, ruangan VIP memiliki kesan sempit dan bukan pilihan bagi para perokok.

Dua ruangan lainnya adalah ruang untuk penumpang kelas ekonomi. Bagian tengah kapal dengan dinding dan jendela yang lebar dan bagian belakang tanpa dinding, hanya pagar besi di tiap sisi kapal. Masing-masing ruangan dilengkapi satu unit pesawat televisi untuk menghibur penumpang dari rasa bosan. Kita bisa memesan minuman ataupun makanan di kafe yang terletak di ruang tengah di samping televisi.

Tepat pukul Sembilan, pintu kapal di tutup. Kapal feri menuju kepulauan Karimunjawa berangkat. Tiga puluh menit berlalu. Satu persatu penumpang kapal terlelap dengan berbagai posisi. Namun sulit bagiku untuk memejamkan mata.

Tiga jam berlalu tanpa kegiatan yang berarti. Beragam acara televisi telah berganti. Aku menyesal, beberapa judul buku yang aku siapkan tertinggal di rumah. Sesekali aku beranjak dari tempat duduk. Ke kamar kecil ataupun sekedar membuang bosan di sisi kapal.

Suatu ketika aku menikmati laut lepas di sisi kapal, seorang turis mendekat dengan kamera di tangan. Dengan asyik dia mencoba membingkai laut, debur ombak dan bayangan matahari dengan kameranya. Aku sedikit mundur. Memberikan ruang yang lebih bebas buatnya.

Sekira lima belas menit, setelah dia cukup puas dengan kameranya, aku menyapanya.

“first time to Karimunjawa?” tanyaku tiba-tiba sambil kembali mendekati pagar kapal.

“excuse me?” tanyanya separuh kaget bercampur tidak yakin aku bertanya menggunakan bahasanya.

“first time to Karimunjawa?” ulangku.

“yeah!” akhirnya dia mengerti, menjawabku sambil tersenyum ramah.

“this is also my fisrt time to Karimunjawa,” terangku.

“oh ya? Well, we’re on the same boat then! Karimunjawa seems nice for holiday.”

“I think so.”

Percakapan berlanjut. Namanya Gioma. Dia berasal dari Prancis dan sedang berlibur bersama pacarnya, Linda. Gioma bercerita tentang perjalanannya ke Solo dan juga Jogjakarta. Dan setelah dari Karimunjawa, dia berencana melanjutkan liburannya ke gunung Bromo, mendaki Semeru dan berkunjung ke Alas Purwo. Tiga minggu masa liburan akan dihabiskan Gioma dan Linda di Indonesia. Perjalanan yang menarik, katanya. Empat puluh menit kami berbincang hingga akhirnya Gioma berpamitan untuk kembali ke tempat Linda. Aku kembali ke kursi di depan televisi.

Laut kali ini cukup teduh. Hampir tidak ada ombak besar. Goncangan kecil hanya sesekali terjadi. Kecuali selama empat puluh menit setelah pukul satu. Berkali-kali kapal di goyang ombak ke kanan dan ke kiri. Kepalaku terasa sedikit pusing. Karena perjalanan laut kali ini merupakan yang terlama yang pernah aku jalani. Enam jam.

Aku memesan secangkir kopi panas di kafetaria. Aroma kopi kuharapkan bisa meredakan rasa ngilu yang menggigit tengkuk dan pusing di kepala. Dan berhasil!

Lewat pukul dua, beberapa penumpang mulai terbangun. Aku sudah gelisah memandang ke depan kapal. Berharap pulau Karimun segera terlihat. Kamera kusiapkan. Kukeluarkan dari tas pengamannya.

Aku naik ke lantai tiga. Berusaha mencari posisi yang bagus untuk menyambut pulau Karimunjawa yang mulai tampak di depan mata. Di lantai tiga, tidak banyak penumpang yang naik. Cuaca yang panas membuat lantai teratas itu bukan pilihan bagi penumpang. Sebab lantai tiga tidak dilengkapi dinding dan atap.

Perlahan tapi pasti, pulau Karimunjawa terlihat makin jelas. Kapal melewati tiga pulau kecil di sisi kanan. Menuju pelabuhan di sisi selatan pegunungan Karimunjawa. Aku tersenyum puas, akhirnya!

Beberapa kali aku menangkap momen kapal merapat ke dermaga dengan kameraku. Juga kombinasi pemandangan laut, pantai dan pegunungan yang terlihat begitu indah.

Kapal telah sepenuhnya merapat meski pintu kapal belum dibuka. Aku bergegas turun ke lantai dua. Mengambil tas ransel yang kutinggal di pojok ruangan. Sebagian besar penumpang telah berkemas, perlahan mereka menuruni anak tangga ke lantai paling bawah.

Begitu pintu terbuka, aku menginjakkan kakiku ke tanah Karimunjawa. Untuk pertama kalinya.

2 Comments

  1. ehm…

  2. oalah…iki tho bule seng minta ditemani ke MAHAMERU….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.