Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri – bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita?
Aku menemukan cuplikan pertanyaan tersebut pada sampul belakang novel The Witch of Portobello karya penulis terkenal asal Brazil Paulo Coelho.
Sebuah pertanyaan retoris yang menggambarkan bagaimana novel tersebut memiliki ruh. Pertanyaan yang sebenarnya juga seringkali menjadi pertanyaan setiap orang dalam dirinya meski tersimpan jauh dalam dirinya; entah karena disembunyikan, diabaikan, ditindis dalam-dalam atau bahkan tidak mampu ditemukan.
Pertanyaan yang secara tidak sengaja hadir di hadapanku saat ini bisa saja kumaknai sebagai sebuah kebetulan, atau sebuah petunjuk awal dimana aku harus mengawali langkah.
Betapa tidak, sudah hampir dua bulan aku berada pada kondisi yang gamang. Melepaskan posisi dan pekerjaanku yang bisa dibilang mapan di kota yang paling ramah pendidikan. Kembali ke kampung halaman dan harus memulai semuanya dari titik nol.
Memang benar bahwa aku dan keahlian yang aku miliki telah dikenal oleh beberapa lembaga dan komunitas di kotaku. Bahkan beberapa lembaga telah mendengar namaku tanpa pernah sekalipun bertatap muka. Karena secara berkala aku memberikan pelatihan ke berbagai tempat di kota kelahiranku, namun justru di sinilah letak kegamanganku. Tawaran dan peluang bermunculan. Sementara aku masih belum mengenal karakter lembaga dan komunitas yang memberikanku peluang. Ringkasnya, aku belum cukup mengenal karakter kotaku.
Pada profesiku, aku cukup idealis. Aku memerlukan diri mengkonsep programku sendiri. Merencanakan gambaran utuh hingga rangkaian detailnya. Berapa lama program berjalan dan siapa saja yang bisa terlibat dalam program juga menjadi perhatianku.
Aku bahkan pernah memilih keluar dari sebuah lembaga terkenal di Jakarta dan berhenti dari sebuah lembaga idealis lainnya di Kediri hanya karena secara prinsip kami berbeda. Aku pernah merasa gagal menjalankan program di kota Tuban dan Kendal meski pihak lembaga di kedua kota tersebut merasa puas, hanya karena konsepku tidak sepenuhnya dijalankan.
Pertanyaan yang dibuat Paulo Coelho untuk menggambarkan ruh novel The Witch of Portobello tentu saja bisa kujadikan pertanyaan awal pada diriku sendiri. Cukup beranikah aku berlaku jujur pada diriku sendiri? Apa sebetulnya yang ingin kulakukan di kampungku sendiri? Apa yang ingin ku capai untuk hidupku sendiri?
Selamat sore kawan, mari menikmati senja di kampung sendiri.
gambar dari sini
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI






